Chapter 3 – Sebuah usaha
Sekarang sudah jam 7 malam, dan seperti biasa aku
melakukan hal yang sering ku lakukan yaitu bermain laptop, entah untuk
online,mengerjakan tugas,maupun bermain game. Hanya laptop inilah temanku saat
aku sendirian dikamar dan aku tetap berpikir “apa yang harus kulakukan untuk
tidak di ejek Yaoi oleh teman-teman sekolahku lagi”.
Pagi-pagi aku sampai ke sekolah seperti biasanya, namun
kali ini rasanya berbeda, kalau biasanya Jonny selalu duduk di dekat dinding
menuju tangga, sekarang kenapa dia tidak ada, ”apakah dia sakit dan tidak masuk
sekolah?”, tapi aku tidak terlalu memikirkan itu, aku langsung saja menuju
kelas.
Suasana kelas tetaplah seperti biasa dan ejekan-ejakan
tetap terdengar, lalu aku berpikir “apa yang harus ku lakukan untuk tidak di
ejek seperti ini lagi? Mungkinkah aku harus memiliki seorang pacar? Baiklah
akan ku lakukan kalau begitu supaya aku tidak dianggap homo lagi desekolah ini”.
Di jam istirahat, kalau biasanya aku pergi kekantin untuk
makan, sekarang aku pergi menuju ruang lapangan basket, karena biasanya jam
segini Cheerleaders disekolahku sedang latihan, dan siapa tau saja bisa
memiliki pacar salah satu dari mereka. Saat aku sampai di lapangan basket, aku
melihat Jonny sedang menyaksikan latihan Cheerleaders, lalu aku langsung saja mendekatinya
dan memberi tos “Hei bro!”
diapun menjawab sapaku “ya,hai juga”
“tumben kau berada disini”
“kau juga tumben berada di lapangan basket saat jam istirahat”
“sedang apa kau disini? Dan kenapa kau tidak ada di depan tadi pagi? Biasanya kau selalu duduk disana”
“mungkin kau tak percaya hal ini, kalau biasanya aku selalu menatap laki-laki tampan di pagi hari..”
“hah? Jadi kau selama ini duduk di depan tiap pagi hanya untuk menatap sejenismu?!”
“iya memang kedengarannya gila, tapi sekarang aku mau berubah, aku ingin punya pacar seorang perempuan!”
“apa? Kau serius??”
“aku tau kau akan ragu-ragu, tapi pernyataanku ini aku ungkapkan langsung dari hatiku”
“ya baguslah kalau begitu, apa yang membuatmu berubah pikiran seperti ini?”
“lihat saja para Cheerleaders itu, saat mereka menari dan menggoyangkan pinggulnya, mereka terlihat sempurna cantik sekali, dan aku jadi kembali tertarik dengan mereka”
“hah? Tertarik apanya? biasa aja ah..”
“ya itu mungkin karena kau memang sudah benar-benar tidak tertarik dengan perempuan lagi”
“eh,jangan beranggapan begitu aku hanya becanda, iya kok aku tau hal itu”
“dan juga kata-katamu kemarin membuatku menyadari akan hal ini,aku telah membuat malu diriku sendiri selama ini” dan tiba-tiba Jonny pun menangis
akupun bertanya “kenapa kau malah menangis?”
“aku menangis menyesali diriku karena telah membuat malu diriku sendiri”
“sudahlah,yang penting kau sudah sadar akan hal ini,aku juga pergi kesini untuk mendapat seorang pacar… o iya,di antara para Cheerleaders ini mana yang kau sukai”
“itu dia yang berada di barisan paling kiri”
“itu? Dia kalau gak salah namanya Naomi Juliani”
“Naomi Juliani?, oh Naomi ya..” dan tiba-tiba bel tanda masuk berbunyi
akupun berkata pada Jonny “yah udah masuk, gak sempet ngeliat mereka berlatih lebih lama lagi”
“sudahlah, lebih baik kita masuk kelas”
“ya sudah” dan aku bergegas menuju kelas.
diapun menjawab sapaku “ya,hai juga”
“tumben kau berada disini”
“kau juga tumben berada di lapangan basket saat jam istirahat”
“sedang apa kau disini? Dan kenapa kau tidak ada di depan tadi pagi? Biasanya kau selalu duduk disana”
“mungkin kau tak percaya hal ini, kalau biasanya aku selalu menatap laki-laki tampan di pagi hari..”
“hah? Jadi kau selama ini duduk di depan tiap pagi hanya untuk menatap sejenismu?!”
“iya memang kedengarannya gila, tapi sekarang aku mau berubah, aku ingin punya pacar seorang perempuan!”
“apa? Kau serius??”
“aku tau kau akan ragu-ragu, tapi pernyataanku ini aku ungkapkan langsung dari hatiku”
“ya baguslah kalau begitu, apa yang membuatmu berubah pikiran seperti ini?”
“lihat saja para Cheerleaders itu, saat mereka menari dan menggoyangkan pinggulnya, mereka terlihat sempurna cantik sekali, dan aku jadi kembali tertarik dengan mereka”
“hah? Tertarik apanya? biasa aja ah..”
“ya itu mungkin karena kau memang sudah benar-benar tidak tertarik dengan perempuan lagi”
“eh,jangan beranggapan begitu aku hanya becanda, iya kok aku tau hal itu”
“dan juga kata-katamu kemarin membuatku menyadari akan hal ini,aku telah membuat malu diriku sendiri selama ini” dan tiba-tiba Jonny pun menangis
akupun bertanya “kenapa kau malah menangis?”
“aku menangis menyesali diriku karena telah membuat malu diriku sendiri”
“sudahlah,yang penting kau sudah sadar akan hal ini,aku juga pergi kesini untuk mendapat seorang pacar… o iya,di antara para Cheerleaders ini mana yang kau sukai”
“itu dia yang berada di barisan paling kiri”
“itu? Dia kalau gak salah namanya Naomi Juliani”
“Naomi Juliani?, oh Naomi ya..” dan tiba-tiba bel tanda masuk berbunyi
akupun berkata pada Jonny “yah udah masuk, gak sempet ngeliat mereka berlatih lebih lama lagi”
“sudahlah, lebih baik kita masuk kelas”
“ya sudah” dan aku bergegas menuju kelas.
Saat dikelas banyak yang membicarakan tentang murid baru
yang akan pindah kesekolah ini, “eh,apa kau dengan kabar?”
“kabar apa?”
“kabarnya sekolah kita ini akan kedatangan murid baru lho.. dia pindahan dari SMA Tanggerang”
“wah,keren juga kalau ada anak baru disekolah ini”
“tapi belum tentu anak barunya laki-laki atau perempuan”
“hmm.. mungkin kalau perempuan akan ku pacari dia dan kalau laki-laki, paling jadi pacarnya si Bio” merekapun tertawa dengan sangat keras
dan aku hanya menarik nafas panjang dan berkata “kapan penderitaan ini akan selesai?”.
“kabar apa?”
“kabarnya sekolah kita ini akan kedatangan murid baru lho.. dia pindahan dari SMA Tanggerang”
“wah,keren juga kalau ada anak baru disekolah ini”
“tapi belum tentu anak barunya laki-laki atau perempuan”
“hmm.. mungkin kalau perempuan akan ku pacari dia dan kalau laki-laki, paling jadi pacarnya si Bio” merekapun tertawa dengan sangat keras
dan aku hanya menarik nafas panjang dan berkata “kapan penderitaan ini akan selesai?”.
Aku sedang duduk di bangku kantin sambil memikirkan
“memang susah mencari seorang pacar di sekolah ini, apalagi sudah seluruh murid
disekolah ini yang menganggap aku Yaoi beneran, dan yang paling parah juga aku
memang tidak memiliki perasaan apapun pada setiap perempuan di sekolah ini… aku
kok kayaknya susah sekali untuk suka sama seorang perempuan di sekolah ini, apa
emang benar aku Yaoi ketularan dari Jonny ya? Eh,tapi aku gak boleh gitu,
pokoknya tetap harus semangat”
saat memikirkan itu, tiba-tiba Jonny datang dan duduk di dekatku, lalu Jonny berkata padaku “gimana nasibmu sekarang?”
aku menjawab “ya tetap aja gini-gini juga, lalu bagaimana dengamu?”
“kalau aku mungkin sudah mulai berubah, lihat aku sudah memiliki nomor handphone nya Naomi!” Jonny menunjukkan itu padaku dan akupun terkejut lalu bertanya kepada Jonny “bagaimana caranya kau bisa memilikinya?”
Jonny menjawab sambil menjelaskan “jadi gini bro, waktu tadi dia mau keperpustakaan untuk mengembalikan buku berpapasan juga disaat aku ingin keperpustakaan, lalu tanpa sengaja aku menambraknya dan membuat semua buku yang dia pegang jatuh, jelas aku khawatir dan meminta maaf sambil membantu merapihkan bukunya kembali, tapi dia malah nanya ke aku “kamu gak apa-apa? Maaf ya aku tadi gak fokus jalan,jadi malah nabrak orang deh” ternyata dia orangnya baik bro,setelah sama kami ngobrol berdua, akhirnya aku dapat nomornya deh, hebatkan?”
mendengarkan penjelasan dari Jonny, aku hanya berkata “tanggal berapakah hari ini? Sepertinya ini adalah hari Hoki untukmu Jon, beruntung sekali”
dan dia hanya berkata “iyalah bro, seperti katamu kemarin, seseorang jika ingin berusaha pasti ada jalannya, termasuk ini, ya udah aku cabut dulu ya”
saat memikirkan itu, tiba-tiba Jonny datang dan duduk di dekatku, lalu Jonny berkata padaku “gimana nasibmu sekarang?”
aku menjawab “ya tetap aja gini-gini juga, lalu bagaimana dengamu?”
“kalau aku mungkin sudah mulai berubah, lihat aku sudah memiliki nomor handphone nya Naomi!” Jonny menunjukkan itu padaku dan akupun terkejut lalu bertanya kepada Jonny “bagaimana caranya kau bisa memilikinya?”
Jonny menjawab sambil menjelaskan “jadi gini bro, waktu tadi dia mau keperpustakaan untuk mengembalikan buku berpapasan juga disaat aku ingin keperpustakaan, lalu tanpa sengaja aku menambraknya dan membuat semua buku yang dia pegang jatuh, jelas aku khawatir dan meminta maaf sambil membantu merapihkan bukunya kembali, tapi dia malah nanya ke aku “kamu gak apa-apa? Maaf ya aku tadi gak fokus jalan,jadi malah nabrak orang deh” ternyata dia orangnya baik bro,setelah sama kami ngobrol berdua, akhirnya aku dapat nomornya deh, hebatkan?”
mendengarkan penjelasan dari Jonny, aku hanya berkata “tanggal berapakah hari ini? Sepertinya ini adalah hari Hoki untukmu Jon, beruntung sekali”
dan dia hanya berkata “iyalah bro, seperti katamu kemarin, seseorang jika ingin berusaha pasti ada jalannya, termasuk ini, ya udah aku cabut dulu ya”
dan aku hanya berpikir “hebat, baru hari pertama udah beruntung sekali orang
itu”.
Karena
tergoda dengan kata-kata dari Jonny tadi, disaat jam pulang sekolah akupun bergegas
menuju ruang lapangan basket untuk melihat Cheerleaders berlatih, aku duduk di
salah satu bangku dan berpikir “wah,gimana ya kalau aku beneran punya pacar
seperti mereka? Mungkin ejekkan Yaoi seperti itu sudah tidak ada lagi padaku,
dan khususnya untuk orang yang mengejekku kemarin, apakah dia masih akan
mengejekku lagi?”, sambil berpikir seperti itu aku pun memperhatikan
Cheerleaders sedang berlatih, tapi belum ada yang kusukai “kenapa kayaknya kok
aku masih belum tertarik dengan salah satu dari mereka? Kalau Naomi itu udah
punya Jonny, masa aku harus menikung temanku sendiri? Tidak-tidak akan ku
lakukan, karena teman itu berharga jadi akupun tidak ingin menyakiti
perasaannya!”, dan karena bosan, akupun memilih untuk pulang kerumah.
Di
perjalanan menuju rumah aku hanya berpikir “ya gak apa-apa mungkin hari ini
belum jatahnya tapi semoga aja besok aku bisa dapat yang terbaik”, dan dengan
semangatnya akupun langsung lari menuju rumah supaya besok aku tetap
bersemangat untuk keluar dari ejekkan-ejekkan teman, “besoklah, akan ku
buktikan kepada mereka yang menertawaiku kalau aku ini bisa memiliki pacar seorang
perempuan dan akan membuat mereka iri!”.
Chapter 3 Selesai , Maaf jika cerita masih belum masuk akal dan masih banyak kesalahan, saran dan kritik diterima
Jika ada kesamaan nama, tokoh dan tempat saya mohon maaf karena cerita ini hanya fiksi belaka.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar