Hari senin seperti biasa aku melakukan kegiatan upacara,
dan setelah itu karena kegiatan di sekolahku pada hari senin tidak hanya
upacara saja, ada juga pelajaran les serupa dengan Lintas Minat hanya saja
kalau disekolah ini kau bisa bebas memilih pelajaran yang sangat kau suka untuk
dipelajari lebih mendalam, dan kebetulan aku memilih pelajaran les TIK. Setelah
mengambil tas aku segera menuju ruang les TIK, suasana di ruang les TIK tak ada
bedanya dengan di kelasku, tetap saja orang-orang di ruang les ini mengejekku
“Hei lihat, si Yaoi lewat”
“menjauh bro, nanti kau di apa-apain dia lagi”
“iih, memang menjijikan sekali”
aku hanya berpikir “Ya ya ya, anggap saja suara itu seperi suara kicauan burung”.
“menjauh bro, nanti kau di apa-apain dia lagi”
“iih, memang menjijikan sekali”
aku hanya berpikir “Ya ya ya, anggap saja suara itu seperi suara kicauan burung”.
Dalam kegiatan mengajarpun tetap saja selalu ada yang
menggangguku, dan beberapa orang pun ada yang membicarakanku “hei ada kau tau?
Ternyata si Yaoi itu sudah dekat-dekat dengan Cindy”
“benarkah? Emangnya dia mau dekat-dekat dengan wanita? Kan dia homo”
“ya maka dari itu aku heran, masa kita yang normal gak bisa dekatin Cindy sih”
“dan apa kau tau juga? Si Jonny sekarang udah gak Yaoi lagi lho” , “hah? Yang benar?”
“iya, dia sekarang udah berani dekatin Naomi, bahkan pernah mengatar Naomi pulang”
“waduh gimana ini? Kenapa yang Yaoi-yaoi bisa di dekatin sama cewek yang cakep-cakep ya?”
“iya, masa kita yang normal gini gak bisa dekatin mereka”
“ya seperti yang ku bilang tadi saja”
“o iya, bagaimana kalau kita pojokkan saja di Yaoi-yaoi itu?”
“pojokin gimana maksudnya?”
“seperti kita bully habis-habisan saja, lagipula kan emang mereka Yaoi, mereka tuh gak pantes deket-deket cewek”
“iya setuju banget…”
aku sama sekali tidak mendengarkan apa yang mereka katakan dan hanya menghiraukannya saja, aku tetap fokus saja kepada guru yang sedang mengajar, karena ini lebih penting dari apa yang mereka bicarakan.
“benarkah? Emangnya dia mau dekat-dekat dengan wanita? Kan dia homo”
“ya maka dari itu aku heran, masa kita yang normal gak bisa dekatin Cindy sih”
“dan apa kau tau juga? Si Jonny sekarang udah gak Yaoi lagi lho” , “hah? Yang benar?”
“iya, dia sekarang udah berani dekatin Naomi, bahkan pernah mengatar Naomi pulang”
“waduh gimana ini? Kenapa yang Yaoi-yaoi bisa di dekatin sama cewek yang cakep-cakep ya?”
“iya, masa kita yang normal gini gak bisa dekatin mereka”
“ya seperti yang ku bilang tadi saja”
“o iya, bagaimana kalau kita pojokkan saja di Yaoi-yaoi itu?”
“pojokin gimana maksudnya?”
“seperti kita bully habis-habisan saja, lagipula kan emang mereka Yaoi, mereka tuh gak pantes deket-deket cewek”
“iya setuju banget…”
aku sama sekali tidak mendengarkan apa yang mereka katakan dan hanya menghiraukannya saja, aku tetap fokus saja kepada guru yang sedang mengajar, karena ini lebih penting dari apa yang mereka bicarakan.
Sekarang sudah waktunya istirahat, saat aku ingin keluar
ruang les tiba-tiba orang-orang di ruangan ini mencegatku, dan aku hanya
bertanya kepada mereka “ini ada apa lagi? Hah?”
salah satu dari mereka menjawab “eh, Yaoi Bio, kami gak suka sikapmu ini ya!”
aku heran dan berkata “sikapku? Setauku aku tidak berbuat apa-apa, lagipula kalian mengira aku ini Yaoi kan? Jadi lebih baik kalian minggir dan bolehkan aku keluar daripada aku melakukan hal yang menjijikan kepada kalian!”
“nah, kau sendiripun tau dirimu itu Yaoi, lalu kenapa kau mendekati wanita? Carilah mangsamu sesama laki-laki dong”
“lha emang kenapa sih? Di sekolah ini juga masih banyak wanita, lalu kenapa kalian gak terima kalau ada satu orang wanita yang mendekatiku?”
“jelas kami gak terima, kau itu Yaoi dan kau tak pantas mendekati seorang wanita”
dan salah satu dari mereka melanjutkan “juga suruhlah teman Yaoi mu si Jonny itu untuk tidak mendekati Naomi lagi, atau jika kau masih bersikeras, aku tak punya pilihan lain selain memukulmu sekarang juga”
mendengar kata mereka akupun berpikir “kata-kata itu.. aku jadi teringat kejadian saat hari sabtu kemarin, dimana aku juga dipukuli dan aku membuat Cindy sangat cemas, aku tidak bisa begini, jika aku dipukuli lagi dan membuat Cindy sangat mencemaskan, dan aku juga ingin melakukan apa yang Cindy katakan juga yaitu untuk tidak melawan mereka saat mereka memukuliku, jadi aku tak punya pilihan lain lagi, baiklah sudah aku putuskan!”
lalu aku berkata kapada mereka “Tidak! Tidak akan! Aku menolak apa yang kalian katakan! Lagipula aku juga bukanlah Yaoi yang seperti kalian pikirkan, aku juga normal! Dan memiliki perasaan juga pada seorang wanita! Dan jika kalian memintaku untuk menjauhkan Jonny dengan Naomi itu tidak bisa! Karena dia juga sudah berubah bukan seperti Yaoi lagi! Dia juga ingin membuktikannya melalui cara seperti itu! Supaya kalian semua sadar kalau selama ini kalian semua SALAH!”
mendengar kata-kataku sebagian dari tercengang dan salah satu dari mereka memukul wajahku dan berkata “oh, jadi seperti itu jawabmu ya?! Teman-teman pukuli saja dia supaya dia sadar!”
lalu mereka semua memukulku dan aku hanya bisa pasrah saja karena aku menuruti apa yang Cindy katakan yaitu “memang lebih baik tidak usah melawan mereka, karena kalau kamu begitu kamu sama saja dengan mereka”
lalu aku berpikir “syukurlah di dekat sini tidak ada Cindy, karena aku tidak mau melihat dia terlihat sangat cemas, lebih baik dia tidak tau hal ini”.
salah satu dari mereka menjawab “eh, Yaoi Bio, kami gak suka sikapmu ini ya!”
aku heran dan berkata “sikapku? Setauku aku tidak berbuat apa-apa, lagipula kalian mengira aku ini Yaoi kan? Jadi lebih baik kalian minggir dan bolehkan aku keluar daripada aku melakukan hal yang menjijikan kepada kalian!”
“nah, kau sendiripun tau dirimu itu Yaoi, lalu kenapa kau mendekati wanita? Carilah mangsamu sesama laki-laki dong”
“lha emang kenapa sih? Di sekolah ini juga masih banyak wanita, lalu kenapa kalian gak terima kalau ada satu orang wanita yang mendekatiku?”
“jelas kami gak terima, kau itu Yaoi dan kau tak pantas mendekati seorang wanita”
dan salah satu dari mereka melanjutkan “juga suruhlah teman Yaoi mu si Jonny itu untuk tidak mendekati Naomi lagi, atau jika kau masih bersikeras, aku tak punya pilihan lain selain memukulmu sekarang juga”
mendengar kata mereka akupun berpikir “kata-kata itu.. aku jadi teringat kejadian saat hari sabtu kemarin, dimana aku juga dipukuli dan aku membuat Cindy sangat cemas, aku tidak bisa begini, jika aku dipukuli lagi dan membuat Cindy sangat mencemaskan, dan aku juga ingin melakukan apa yang Cindy katakan juga yaitu untuk tidak melawan mereka saat mereka memukuliku, jadi aku tak punya pilihan lain lagi, baiklah sudah aku putuskan!”
lalu aku berkata kapada mereka “Tidak! Tidak akan! Aku menolak apa yang kalian katakan! Lagipula aku juga bukanlah Yaoi yang seperti kalian pikirkan, aku juga normal! Dan memiliki perasaan juga pada seorang wanita! Dan jika kalian memintaku untuk menjauhkan Jonny dengan Naomi itu tidak bisa! Karena dia juga sudah berubah bukan seperti Yaoi lagi! Dia juga ingin membuktikannya melalui cara seperti itu! Supaya kalian semua sadar kalau selama ini kalian semua SALAH!”
mendengar kata-kataku sebagian dari tercengang dan salah satu dari mereka memukul wajahku dan berkata “oh, jadi seperti itu jawabmu ya?! Teman-teman pukuli saja dia supaya dia sadar!”
lalu mereka semua memukulku dan aku hanya bisa pasrah saja karena aku menuruti apa yang Cindy katakan yaitu “memang lebih baik tidak usah melawan mereka, karena kalau kamu begitu kamu sama saja dengan mereka”
lalu aku berpikir “syukurlah di dekat sini tidak ada Cindy, karena aku tidak mau melihat dia terlihat sangat cemas, lebih baik dia tidak tau hal ini”.
Setelah memukuliku mereka pergi meninggalkanku begitu
saja, bibirku luka dan berdarah, aku mengelap darah yang keluar menggunakan
selembar kertas yang ku ambil dari tasku. Aku kembali ke kelas dan aku sengaja
tidak melewati kelasnya karena aku takut kalau Cindy melihatku seperti ini,
supaya Cindy tidak melihatku jadi aku sengaja tidak pergi ke kantin di jam
istirahat ini, untung aku membawa makanan dari rumah jadi aku bisa makan
dikelas saja.
Kegiatan
belajar sudah di kelas sudah dimulai, tapi karena guru yang mengajar hari ini
sedang berhalangan hadir jadi kami disuruh mengerjakan tugas. Saat aku sedang
mengerjakan tugas tiba-tiba teman-teman kelas mendekatiku, aku bingung tapi aku
tidak peduli dan tetap mengerjakan tugas, lalu salah satu dari mereka berkata
“Oh,jadi ini ya si Yaoi yang dekat dengan Cindy itu?”
aku tak menjawab dan tetap melanjutkan mengerjakan tugas, lalu dia berkata lagi “gaya sekali kau, Yaoi sepertimu berani-beraninya mendekati Cindy”
aku tetap tak menjawab dan salah satu dari mereka berkata “hei, kenapa kau hanya diam saja? Apa kau tidak memiliki mulut untuk bicara?”
aku tetap mengerjakan tugas sambil berkata kepada mereka “ada apa lagi? Jika tentang Yaoi lebih baik aku diam saja, karena tak ada pentingnya untukku”
lalu dia berkata “Bio Yaoi, seperti biasa kau selalu banyak gaya, tak ku sangka Yaoi sepertimu bisa mendekati Cindy seorang murid cantik disekolah ini”
aku kembali menjawab “percuma saja kau menyebutku Yaoi selama ini, aku benar-benar bukan Yaoi seperti yang kau pikirkan”
“benarkah? Dan jangan-jangan kau juga menyukai Cindy”
“ya, aku menyukainya sebagai temanku, karena memang dia itu temanku”
“berani sekali kau Yaoi berkata seperti itu”
“sudah aku bilang aku bukan Yaoi, lalu apa yang harus ku lakukan untuk membuktikan kalau aku bukan Yaoi?”
“kalau begitu, kita bertaruh saja bagaimana?”
aku berhenti mengerjakan tugas dan bertanya kepadanya “bertaruh apa yang kau maksud?”
dia menjawab “berlomba, kau,aku, dan mereka yang di kelas ini atau di luar kelas ini boleh ikut dalam lomba ini, lombanya yaitu.. siapakah yang mampu mendapatkan hatinya Cindy..”
aku sedikit kaget dan kembali bertanya “apa maksudmu itu”
dia kembali menjawab “maksudku ialah, siapa yang dapat menjadikan Cindy sebagai pacarnya.. jika kau bisa menjadikan dia pacarmu maka aku tidak akan mengejekmu lagi, tapi jika aku yang menjadi pacarnya, kau akan ku bully dan bahkan lebih parah dari ini, apa kau setuju?”
aku terkejut dan berkata “tidak bisakah cara lain? Mengapa harus menjadi pacarnya?”
“tidak,tidak ada cara lain, terima atau tidak kau harus terima”
lalu dia berkata pada teman disekitarnya “sudahlah ayo kita kembali saja ketempat duduk kita, aku jadi merasa jijik berbicara dengan seorang Yaoi”, lalu mereka kembali ke tempat duduknya masing-masing.
aku tak menjawab dan tetap melanjutkan mengerjakan tugas, lalu dia berkata lagi “gaya sekali kau, Yaoi sepertimu berani-beraninya mendekati Cindy”
aku tetap tak menjawab dan salah satu dari mereka berkata “hei, kenapa kau hanya diam saja? Apa kau tidak memiliki mulut untuk bicara?”
aku tetap mengerjakan tugas sambil berkata kepada mereka “ada apa lagi? Jika tentang Yaoi lebih baik aku diam saja, karena tak ada pentingnya untukku”
lalu dia berkata “Bio Yaoi, seperti biasa kau selalu banyak gaya, tak ku sangka Yaoi sepertimu bisa mendekati Cindy seorang murid cantik disekolah ini”
aku kembali menjawab “percuma saja kau menyebutku Yaoi selama ini, aku benar-benar bukan Yaoi seperti yang kau pikirkan”
“benarkah? Dan jangan-jangan kau juga menyukai Cindy”
“ya, aku menyukainya sebagai temanku, karena memang dia itu temanku”
“berani sekali kau Yaoi berkata seperti itu”
“sudah aku bilang aku bukan Yaoi, lalu apa yang harus ku lakukan untuk membuktikan kalau aku bukan Yaoi?”
“kalau begitu, kita bertaruh saja bagaimana?”
aku berhenti mengerjakan tugas dan bertanya kepadanya “bertaruh apa yang kau maksud?”
dia menjawab “berlomba, kau,aku, dan mereka yang di kelas ini atau di luar kelas ini boleh ikut dalam lomba ini, lombanya yaitu.. siapakah yang mampu mendapatkan hatinya Cindy..”
aku sedikit kaget dan kembali bertanya “apa maksudmu itu”
dia kembali menjawab “maksudku ialah, siapa yang dapat menjadikan Cindy sebagai pacarnya.. jika kau bisa menjadikan dia pacarmu maka aku tidak akan mengejekmu lagi, tapi jika aku yang menjadi pacarnya, kau akan ku bully dan bahkan lebih parah dari ini, apa kau setuju?”
aku terkejut dan berkata “tidak bisakah cara lain? Mengapa harus menjadi pacarnya?”
“tidak,tidak ada cara lain, terima atau tidak kau harus terima”
lalu dia berkata pada teman disekitarnya “sudahlah ayo kita kembali saja ketempat duduk kita, aku jadi merasa jijik berbicara dengan seorang Yaoi”, lalu mereka kembali ke tempat duduknya masing-masing.
Sudah saatnya pulang sekolah, lalu aku berjalan kerumah
sambil memikirkan “Cindy, aku harus menjadikan dia pacarku, padahal aku sudah
menganggapnya sebagai teman baikku, karena dia selalu membantuku dan dia juga
begitu ramah padaku, kenapa mereka selalu iri jika aku berteman dengannya?
Apakah mereka tidak berpikir bagaimana sikap mereka? Selalu menilai sembarangan
orang lain namun diri mereka sendiri tidak pernah mereka nilai, sungguh egois
sekali.. lalu apa yang harus kulakukan? Cindy, apa jika aku menjadikan kau
pacarku akankah kau tetap baik kepadaku seperti sekarang ini? Atau apakah kau
akan melupakanku jika kau menjadi pacarnya?”.
Aku sampai dirumah dan seperti biasa ayahku selalu
memperhatikan wajahku setiap aku pulang sekolah, ayah melihat wajahku yang
tampak tak bersemangat lalu ayah bertanya padaku “kau kenapa Bio? Tak biasanya
mukamu seperti itu?”
aku menjawab “tidak ada aku hanya kurang bersemangat saja”
ayahku heran dan dia berkata “kalau begitu, kau makan dulu sana, tadi ayah memasak nasi goring kesukaanmu”
lalu aku bertanya “ayah bisa memasak?”
“sebenarnya tidak bisa, tapi ayah lihat dari resep ibumu, lalu ayah coba dan seperti itulah hasilnya”
“kalau begitu aku makan dulu ya ‘yah”
“iya, habiskan ya”, dan akupun menyantap nasi goring yang ayahku masak.
aku menjawab “tidak ada aku hanya kurang bersemangat saja”
ayahku heran dan dia berkata “kalau begitu, kau makan dulu sana, tadi ayah memasak nasi goring kesukaanmu”
lalu aku bertanya “ayah bisa memasak?”
“sebenarnya tidak bisa, tapi ayah lihat dari resep ibumu, lalu ayah coba dan seperti itulah hasilnya”
“kalau begitu aku makan dulu ya ‘yah”
“iya, habiskan ya”, dan akupun menyantap nasi goring yang ayahku masak.
Selesai makan aku kembali ke ayahku dan bertanya “apa ibu
belum pulang?”
ayahku menjawab “belum, dia lembur hari ini, jadi kemungkinan dia pulang telat”
aku kembali bertanya “lalu kakak kemana?”
“dia sedang pergi ke mall sebentar untuk membeli kebutuhan kuliahnya”,
lalu ayahku balik bertanya “nah sekarang bagaimana? Apa kau mau menceritakan apa yang terjadi disekolahmu Bio?”
lalu aku menceritakan apa yang terjadi disekolahku pada ayah “sebenarnya aku disuruh taruhan oleh temanku, memang Bio berteman sama salah satu murid perempuan, lalu teman-teman Bio iri, jadilah mereka taruhan pada Bio, katanya kalau Bio bisa pacaran sama teman Bio itu Bio gak dibully, tapi kalau sebaliknya Bio bakal dibully”
ayahku heran dan bertanya “lho,kok bisa gitu?”
“ya begitulah, ayah juga tau kan bagaimana sikap dan pergaulan teman-teman Bio disekolah..”
“iya ayah mengerti, tapi ayah hanya bisa kasih saran begini, pokoknya apapun yang temanmu lakukan, kamu harus tetap sabar dan berusaha untuk bisa menandingi mereka, menandinginya maskudnya bukan dengan fisik gitu, tapi dengan prestasimu, ya minimal nilaimu tinggi diatas merekalah”
“oh begitu, lalu kalau aku dengan temanku yang itu gimana ‘yah? Haruskah aku pacaran?”
“kalau itu ayah gak tau, ya bagaimana baiknya kamu saja, tapi kalau kamu memang sayang pertemananmu jadi kacau, jadikanlah dia sahabatmu”
aku setuju apa yang ayahku katakan dan aku berkata pada ayahku “baiklah, akan ku coba ayah”.
ayahku menjawab “belum, dia lembur hari ini, jadi kemungkinan dia pulang telat”
aku kembali bertanya “lalu kakak kemana?”
“dia sedang pergi ke mall sebentar untuk membeli kebutuhan kuliahnya”,
lalu ayahku balik bertanya “nah sekarang bagaimana? Apa kau mau menceritakan apa yang terjadi disekolahmu Bio?”
lalu aku menceritakan apa yang terjadi disekolahku pada ayah “sebenarnya aku disuruh taruhan oleh temanku, memang Bio berteman sama salah satu murid perempuan, lalu teman-teman Bio iri, jadilah mereka taruhan pada Bio, katanya kalau Bio bisa pacaran sama teman Bio itu Bio gak dibully, tapi kalau sebaliknya Bio bakal dibully”
ayahku heran dan bertanya “lho,kok bisa gitu?”
“ya begitulah, ayah juga tau kan bagaimana sikap dan pergaulan teman-teman Bio disekolah..”
“iya ayah mengerti, tapi ayah hanya bisa kasih saran begini, pokoknya apapun yang temanmu lakukan, kamu harus tetap sabar dan berusaha untuk bisa menandingi mereka, menandinginya maskudnya bukan dengan fisik gitu, tapi dengan prestasimu, ya minimal nilaimu tinggi diatas merekalah”
“oh begitu, lalu kalau aku dengan temanku yang itu gimana ‘yah? Haruskah aku pacaran?”
“kalau itu ayah gak tau, ya bagaimana baiknya kamu saja, tapi kalau kamu memang sayang pertemananmu jadi kacau, jadikanlah dia sahabatmu”
aku setuju apa yang ayahku katakan dan aku berkata pada ayahku “baiklah, akan ku coba ayah”.
Chapter 6 Selesai, Maaf jika cerita masih belum masuk akal dan masih banyak kesalahan, saran dan kritik diterima
Jika ada kesamaan nama, tokoh dan tempat saya mohon maaf karena cerita ini hanya fiksi belaka.



