Chapter 5 – Hariku
bersamanya
Hari ini adalah hari sabtu, seperti biasa hari sabtu itu
disekolah hanya diisi dengan kegiatan ekskul, karena aku suka olahraga, jadi
aku mengambil ekskul ini. Di ekskul ini juga aku tak hanya bermain basket saja,
kadang juga yang lain seperti futsal,badminton,bulu tangkis,volly dan lainnya,
o iya sekarang Jonny juga berada di ekskul ini, jadi sekarang aku punya teman
main deh.
Aku
bertemu dengan Jonny lalu aku menyapanya “Hei Jon,selamat pagi”
dia membalas “iya pagi juga”
“tumben kau udah langsung siap-siap saja”
“iyalah hari ini kan harus semangat”,
saat aku sedang menoleh, tiba-tiba Jonny memukul-mukul bahuku dan berkata “eh Bio,itu lihat disana!”
ternyata Cindy juga berada di sini dan dia sedang bermain bulu tangkis, aku terkejut dan bertanya pada Jonny “itu Cindy kan?”
dia menjawab “iya Cindy anak baru itu, kau udah tau kan?”
“iya tau, kok dia mengambil ekskul olahraga ini juga ya?”
karena aku malu, akupun langsung menjauh dari sana,dan Jonny mengejarku dan berkata “heh,kok malah kabur sih?”
aku menjawab “habis malulah, dari kemarin aku bertemu sama dia”
dan Jonny berkata “wah,jangan-jangan kau sudah mulai jatuh cinta nih”
“apa? Jatuh cinta?!”
saat aku bicara dengan Jonny tiba-tiba sekelompok teman-teman dari kelasku mendatangi kami, ternyata dia itu yang kemarin menghadangku, lalu aku bertanya “kamu.. ngapain?”
dia terlihat kesal dan berkata “eh, kau itu Yaoi ya? Yaoi ngapain sih dekat-dekat dengan Cindy?!”
aku menjawab “kan aku temannya dia..”
“teman? Hahaha.. eh, ingat ya! Kau sudah macam-macam dengaku”
lalu Jonny membelaku “heh,kenapa sih?! kan Bio gak ngapa-ngapain disini!”
lalu orang itu bicara dengan teman yang disekelilingnya “eh,coba liat nih pantesan aja Yaoi ya kemana-mana berdua mulu, jangan-jangan udah pada ‘gitu’ lagi”
Jonny marah dan berkata kepada mereka “heh,bisa gak sih gak usah ngejek-ngejek orang?! Udah kayak dirimu paling sempurna aja!”
dan orang itu berkata “kau juga ya, udah cari gara-gara sama kita! Yaoi gak usah deh dekat-dekat sama Naomi dan Cindy”
akupun berkata “emang kenapa sih?! Kan hak kita juga kali bisa temenan sama mereka!”
lalu orang itu melihatku dan berkata “nah khususnya buatmu Bio, Cindy itu hanya punya aku.. udahlah-udahlah aku sudah muak, teman-teman hajar aja tuh si Yaoi Bio!”
lalu teman-teman yang berada disekitarnya mulai menghajar dan memukuliku, Jonny berusaha menghalangi namun dia tidak kuat menghadapi mereka, tiba-tiba Cindy datang dan berteriak “HEI!!! HENTIKAN!!!”
lalu mereka berhenti memukuliku, Cindy terlihat sangat kesal dan memarahi mereka yang memukuliku “ini apa-apaan sih?! Awas yah! Aku laporkan kalian ke guru BP!”
dan sekelompok orang itu menjauh dari kami, Cindy melihatku terduduk sambil menyender ke dinding, dia duduk lalu bertanya kepadaku “kamu gak apa-apa?”
aku menjawab “iya gak usah khawatir gitu,aku gak apa-apa”
Cindy melihat ada darah keluar dari bibirku, lalu dia mengeluarkan tissue lalu mengelap bibirku, aku melihat sepertinya dia sangat cemas padaku, Jonny masih merasa kesal dan berkata “haduh mereka emang selalu mencari masalah, beraninya keroyokan sih, lain kali kalau bertemu akan ku hajar mereka!”
Cindy berusaha menenangkan Jonny, “sudah-sudah yang penting Bio gak apa-apa kok, gak baik juga kalau melawan mereka, nanti malah kalian berdua nanti yang dipanggil guru BP”
aku hanya tersenyum dan berkata kepada mereka berdua “hei, kalian berdua, kalian berbicara seperti sudah saling kenal saja”
Jonny menyadarinya dan berkata kepada Cindy “O iya, aku lupa,haduh karena kebawa emosi nih, kamu kan Cindy anak baru itukan?”
Cindy menjawab “iya benar, kok kamu tau namaku?”
“aku tau dari teman-teman, o iya,kau belum kenal aku ya, namaku Jonny Iskandar, panggil saja Jonny ya”
dan aku berkata kepada Jonny “Jonny ya sekarang? bukannya Jenny nih?”
Jonny menjawab “gaklah, sekarang kan bukan Yaoi”
“benarkah?” lalu aku dengan Cindy tertawa melihat kelakuan Jonny.
dia membalas “iya pagi juga”
“tumben kau udah langsung siap-siap saja”
“iyalah hari ini kan harus semangat”,
saat aku sedang menoleh, tiba-tiba Jonny memukul-mukul bahuku dan berkata “eh Bio,itu lihat disana!”
ternyata Cindy juga berada di sini dan dia sedang bermain bulu tangkis, aku terkejut dan bertanya pada Jonny “itu Cindy kan?”
dia menjawab “iya Cindy anak baru itu, kau udah tau kan?”
“iya tau, kok dia mengambil ekskul olahraga ini juga ya?”
karena aku malu, akupun langsung menjauh dari sana,dan Jonny mengejarku dan berkata “heh,kok malah kabur sih?”
aku menjawab “habis malulah, dari kemarin aku bertemu sama dia”
dan Jonny berkata “wah,jangan-jangan kau sudah mulai jatuh cinta nih”
“apa? Jatuh cinta?!”
saat aku bicara dengan Jonny tiba-tiba sekelompok teman-teman dari kelasku mendatangi kami, ternyata dia itu yang kemarin menghadangku, lalu aku bertanya “kamu.. ngapain?”
dia terlihat kesal dan berkata “eh, kau itu Yaoi ya? Yaoi ngapain sih dekat-dekat dengan Cindy?!”
aku menjawab “kan aku temannya dia..”
“teman? Hahaha.. eh, ingat ya! Kau sudah macam-macam dengaku”
lalu Jonny membelaku “heh,kenapa sih?! kan Bio gak ngapa-ngapain disini!”
lalu orang itu bicara dengan teman yang disekelilingnya “eh,coba liat nih pantesan aja Yaoi ya kemana-mana berdua mulu, jangan-jangan udah pada ‘gitu’ lagi”
Jonny marah dan berkata kepada mereka “heh,bisa gak sih gak usah ngejek-ngejek orang?! Udah kayak dirimu paling sempurna aja!”
dan orang itu berkata “kau juga ya, udah cari gara-gara sama kita! Yaoi gak usah deh dekat-dekat sama Naomi dan Cindy”
akupun berkata “emang kenapa sih?! Kan hak kita juga kali bisa temenan sama mereka!”
lalu orang itu melihatku dan berkata “nah khususnya buatmu Bio, Cindy itu hanya punya aku.. udahlah-udahlah aku sudah muak, teman-teman hajar aja tuh si Yaoi Bio!”
lalu teman-teman yang berada disekitarnya mulai menghajar dan memukuliku, Jonny berusaha menghalangi namun dia tidak kuat menghadapi mereka, tiba-tiba Cindy datang dan berteriak “HEI!!! HENTIKAN!!!”
lalu mereka berhenti memukuliku, Cindy terlihat sangat kesal dan memarahi mereka yang memukuliku “ini apa-apaan sih?! Awas yah! Aku laporkan kalian ke guru BP!”
dan sekelompok orang itu menjauh dari kami, Cindy melihatku terduduk sambil menyender ke dinding, dia duduk lalu bertanya kepadaku “kamu gak apa-apa?”
aku menjawab “iya gak usah khawatir gitu,aku gak apa-apa”
Cindy melihat ada darah keluar dari bibirku, lalu dia mengeluarkan tissue lalu mengelap bibirku, aku melihat sepertinya dia sangat cemas padaku, Jonny masih merasa kesal dan berkata “haduh mereka emang selalu mencari masalah, beraninya keroyokan sih, lain kali kalau bertemu akan ku hajar mereka!”
Cindy berusaha menenangkan Jonny, “sudah-sudah yang penting Bio gak apa-apa kok, gak baik juga kalau melawan mereka, nanti malah kalian berdua nanti yang dipanggil guru BP”
aku hanya tersenyum dan berkata kepada mereka berdua “hei, kalian berdua, kalian berbicara seperti sudah saling kenal saja”
Jonny menyadarinya dan berkata kepada Cindy “O iya, aku lupa,haduh karena kebawa emosi nih, kamu kan Cindy anak baru itukan?”
Cindy menjawab “iya benar, kok kamu tau namaku?”
“aku tau dari teman-teman, o iya,kau belum kenal aku ya, namaku Jonny Iskandar, panggil saja Jonny ya”
dan aku berkata kepada Jonny “Jonny ya sekarang? bukannya Jenny nih?”
Jonny menjawab “gaklah, sekarang kan bukan Yaoi”
“benarkah?” lalu aku dengan Cindy tertawa melihat kelakuan Jonny.
Jam istirahat pun tiba, Aku dan Jonny pergi menuju kantin
sekolah, sementara Cindy kembali melanjutkan aktivitasnya, akupun bertanya
“Jonny, kau lihatkan tadi Cindy mengelap darah dibibirku?”
Jonny menjawab “iya kenapa?”
“sepertinya aku pernah mengalami hal itu,tapi kapan ya?.. rasanya seperti, Dejavu”
“oh,kalau begitu mungkin kau pernah bermimpi tentang kejadian ini dan kejadian ini pun menjadi nyata”
”ya mungkin saja begitu”.
Jonny menjawab “iya kenapa?”
“sepertinya aku pernah mengalami hal itu,tapi kapan ya?.. rasanya seperti, Dejavu”
“oh,kalau begitu mungkin kau pernah bermimpi tentang kejadian ini dan kejadian ini pun menjadi nyata”
”ya mungkin saja begitu”.
Aku dan Jonny akhirnya sampai dikantin, kamipun makan
bersama sambil membicarakan sesuatu, aku berkata pada Jonny “Jon, kenapa kalau
aku dekat Cindy rasanya seperti malu saja dekat dia?”
Jonny menjawab “mungkin kau jatuh cinta padanya”
“apa?? Jatuh cinta? Sepertinya tidak juga, lagipula memang aku masih belum mengerti rasanya jatuh cinta”
“kalau begitu coba kau habiskan saja waktu bersama dia hari ini, untuk membuktikan apa kau jatuh cinta kepadanya”
“harus begitukah?”
“iyalah, apalagi kan kita dan dia satu ekskul, ayolah akan ku bantu”
“baiklah kalau harus begitu” lalu kamipun kembali ke lapangan.
Jonny menjawab “mungkin kau jatuh cinta padanya”
“apa?? Jatuh cinta? Sepertinya tidak juga, lagipula memang aku masih belum mengerti rasanya jatuh cinta”
“kalau begitu coba kau habiskan saja waktu bersama dia hari ini, untuk membuktikan apa kau jatuh cinta kepadanya”
“harus begitukah?”
“iyalah, apalagi kan kita dan dia satu ekskul, ayolah akan ku bantu”
“baiklah kalau harus begitu” lalu kamipun kembali ke lapangan.
Saat di lapangan kamipun mencari Cindy, aku berkata pada
Jonny “Jon, kira-kira Cindy kemana ya? daritadi sepertinya gak keliatan”
Jonny menjawab “udah sabar aja nanti juga ketemu kok, tuh lihat saja dirimu sekarang pengen banget ketemu Cindy kan?”
“mm.. tidak juga, bukankah katamu kita mau mengajak dia bermain”
lalu Jonny melihat Cindy dan memberitahukannya padaku “Itu Bio lihat disamping net bulu tangkis, itu Cindy sedang duduk disana, ayo langsung saja kesana”
aku gugup lalu berkata pada Jonny “hhmm.. nanti saja deh kayaknya, tiba-tiba aku merasa gugup”
Jonny berkata padaku “Hei, ayolah tadi kau katanya mau bertemu dengannya kok sekarang malah gini.. ayo jangan malu”
“tapi aku serius sudah deh nanti saja ya” lalu aku pergi menuju bangku penonton
melihat tingkahku yang malu-malu Jonny hanya menggeleng kepala “ah,gimana sih gak gentlemen nih..”.
Jonny menjawab “udah sabar aja nanti juga ketemu kok, tuh lihat saja dirimu sekarang pengen banget ketemu Cindy kan?”
“mm.. tidak juga, bukankah katamu kita mau mengajak dia bermain”
lalu Jonny melihat Cindy dan memberitahukannya padaku “Itu Bio lihat disamping net bulu tangkis, itu Cindy sedang duduk disana, ayo langsung saja kesana”
aku gugup lalu berkata pada Jonny “hhmm.. nanti saja deh kayaknya, tiba-tiba aku merasa gugup”
Jonny berkata padaku “Hei, ayolah tadi kau katanya mau bertemu dengannya kok sekarang malah gini.. ayo jangan malu”
“tapi aku serius sudah deh nanti saja ya” lalu aku pergi menuju bangku penonton
melihat tingkahku yang malu-malu Jonny hanya menggeleng kepala “ah,gimana sih gak gentlemen nih..”.
Kegiatan ekskul
mulai berlanjut lagi, Jonny kembali berlatih bermain futsal, Cindy sedang
bermain bulu tangkis bersama Naomi, sementara aku hanya duduk saja di bangku
penonton melihat mereka beraktivitas, ntah kenapa semangatku langsung hilang
begitu saja, aku berpikir “kenapa aku malu sekali ya buat bertemu Cindy,
padahalkan seharusnya biasa saja, haduh, diriku yang pecundang, bahkan saat
tadi seseorang memukuli aku aku malah diam saja dan tak membalas, sampai-sampai
dibela oleh seorang wanita, memalukan sekali..”.
Kegiatan ekskul
sudah selesai dan akupun bergegas untuk pulang, aku mencari Jonny namun dia
tidak ada “sepertinya dia sudah pulang, baiklah aku juga lebih baik pulang
saja”. Saat di jalan tiba-tiba seseorang menutup mataku dari belakang dan dia berkata
“tebak hayo ini siapa?”
aku sepertinya mengenal suara itu, suara seorang perempuan namun aku tidak tau siapa “maaf, aku tidak tau” aku mengangkat tangannya ke atas dan melihat ke arah belakang, aku terkejut ternyata dia Cindy “Ci.. Cindy?? Kau sedang apa disini??”
lalu dia menjawabku “tidak ada hanya ingin pulang saja, ayahku hari ini tidak menjemputku jadi aku jalan kaki saja pulang kerumah”
aku bertanya padanya “apakah rumahmu jauh dari sini?”
dia menjawab “tidak terlalu jauh, jalan kaki juga bisa kok”
“kalau begitu, bolehkah aku menemaniku hingga kau sampai kerumah?”
“kau kemarin menemaniku saat aku sendirian.. tapi gak apa-apa, supaya aku tidak bosan saja”
“oke baiklah kalau begitu” lalu kamipun berjalan kami sambil membicarakan banyak hal bersama
aku berkata kepadanya “o iya,maaf kalau aku tadi membuatmu cemas ya”
dia bingung dan bertanya “cemas? Kapan?”
aku menjawab “yang tadi saat aku dipukuli oleh orang tadi”
“oh, yang itu, iya gak apa-apa kok,yang penting kamu juga gak babak belur kan?”
“iya, ngomong-ngomong kenapa kau begitu mencemaskanku tadi?”
“aku hanya ingin menolongmu saja karena kamu itukan temanku, bukankah sudah ku bilang ya jika kau dalam masalah aku pasti akan membantumu kok”
“oh,terima kasih kalau begitu, maaf juga kalau aku tidak melawan mereka, Jonny lah yang menghalangi mereka tadi, bahkan aku dibantu seorang wanita, haduh memalukan sekali aku ini..”
“gak apa-apa, bahkan ku pikir memang lebih baik tidak usah membalasnya, karena kalau begitu kau sama saja seperti mereka”
“benarkah begitu?”
“iya, begitulah terkadang pemikiran laki-laki, membuktikan kejantanannya lewat berkelahi bukannya membantu orang lain, aku sangat tidak suka hal itu”
“oh, begitu ya.. berarti apakah termasuk aku?”
“kamu tidak begitu kok, kamu berbeda, dari awal aku bertemu kamupun kamu memang berbeda dengan mereka, kamu orang yang baik..”
“umm… berlebihan sekali memujinya, tapi tak apa, aku suka kok”
“hah? Berlebihan ya, maaf kalau begitu”.
aku sepertinya mengenal suara itu, suara seorang perempuan namun aku tidak tau siapa “maaf, aku tidak tau” aku mengangkat tangannya ke atas dan melihat ke arah belakang, aku terkejut ternyata dia Cindy “Ci.. Cindy?? Kau sedang apa disini??”
lalu dia menjawabku “tidak ada hanya ingin pulang saja, ayahku hari ini tidak menjemputku jadi aku jalan kaki saja pulang kerumah”
aku bertanya padanya “apakah rumahmu jauh dari sini?”
dia menjawab “tidak terlalu jauh, jalan kaki juga bisa kok”
“kalau begitu, bolehkah aku menemaniku hingga kau sampai kerumah?”
“kau kemarin menemaniku saat aku sendirian.. tapi gak apa-apa, supaya aku tidak bosan saja”
“oke baiklah kalau begitu” lalu kamipun berjalan kami sambil membicarakan banyak hal bersama
aku berkata kepadanya “o iya,maaf kalau aku tadi membuatmu cemas ya”
dia bingung dan bertanya “cemas? Kapan?”
aku menjawab “yang tadi saat aku dipukuli oleh orang tadi”
“oh, yang itu, iya gak apa-apa kok,yang penting kamu juga gak babak belur kan?”
“iya, ngomong-ngomong kenapa kau begitu mencemaskanku tadi?”
“aku hanya ingin menolongmu saja karena kamu itukan temanku, bukankah sudah ku bilang ya jika kau dalam masalah aku pasti akan membantumu kok”
“oh,terima kasih kalau begitu, maaf juga kalau aku tidak melawan mereka, Jonny lah yang menghalangi mereka tadi, bahkan aku dibantu seorang wanita, haduh memalukan sekali aku ini..”
“gak apa-apa, bahkan ku pikir memang lebih baik tidak usah membalasnya, karena kalau begitu kau sama saja seperti mereka”
“benarkah begitu?”
“iya, begitulah terkadang pemikiran laki-laki, membuktikan kejantanannya lewat berkelahi bukannya membantu orang lain, aku sangat tidak suka hal itu”
“oh, begitu ya.. berarti apakah termasuk aku?”
“kamu tidak begitu kok, kamu berbeda, dari awal aku bertemu kamupun kamu memang berbeda dengan mereka, kamu orang yang baik..”
“umm… berlebihan sekali memujinya, tapi tak apa, aku suka kok”
“hah? Berlebihan ya, maaf kalau begitu”.
Tidak
terasa karena membicarakan banyak hal akhirnya aku dan dia sampai dirumahnya,
aku berkata padanya “inikah rumahmu?"
dia menjawab “iya ini rumahku, mungkin papaku sibuk berkerja jadi dia belum
pulang.. mau main?”
“tidak usah, lebih baik aku pulang segera saja, karena banyak yang harus
dilakukan di hari sabtu seperti ini”
“oh, baiklah kalau begitu, jika kamu ingin bermain, berkunjunglah kerumahku,jangan
sungkan-sungkan ya”
aku pulang lalu pamit kepadanya “aku pulang dulu ya”
“iya hati-hati, makasih ya!”
Akupun kembali kerumahku, dan aku berpikir “tak terasa hari ini sepertinya aku
banyak menghabiskan waktu bersamanya, mulai dari tadi pagi sampai sekarang,
walaupun tadi pagi aku sempat malu bertemu dengannya tapi sungguh hari ini
adalah hari yang menyenangkan, hari yang kuhabiskan bersamanya”.
Chapter 5 Selesai , Maaf jika cerita masih belum masuk akal dan masih banyak kesalahan, saran dan kritik diterima
Jika ada kesamaan nama, tokoh dan tempat saya mohon maaf karena cerita ini hanya fiksi belaka.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar